Nama Bali saat ini identik dengan surga pariwisata dunia. Namun, jauh sebelum menjadi destinasi global seperti sekarang, Pulau Dewata melalui perjalanan sejarah yang panjang dan tertutup sebelum akhirnya mulai dikenal oleh bangsa-bangsa luar, terutama bangsa Eropa.
Berikut adalah penelusuran sejarah bagaimana Bali pertama kali mulai dikenal oleh dunia luar.
1. Era Pelayaran dan Kontak Pertama dengan Eropa (Abad ke-16)
Sebelum abad ke-16, Bali merupakan wilayah yang relatif tertutup dari dunia luar, meski sudah menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim Nusantara di bawah pengaruh berbagai kerajaan Hindu-Buddha.
- Kontak tertulis pertama antara orang Eropa dan penduduk Bali tercatat pada tanggal 25 Januari 1597.
- Sebuah ekspedisi penjelajah Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman singgah di perairan Bali dalam perjalanan pulang mereka mencari rempah-rempah.
- Meski tidak menemukan rempah-rempah sebanyak yang mereka cari di Maluku, para pelaut Belanda ini terpesona oleh keindahan alam pulau serta keunikan masyarakat dan budayanya yang belum pernah mereka temui di tempat lain.
2. Catatan Perjalanan yang Membuka Pintu Dunia
Laporan dan catatan panjang yang dibuat oleh Cornelis de Houtman beserta awak kapalnya mengenai keindahan Pulau Bali kemudian dibawa pulang ke Eropa. Catatan tersebut menjadi pintu masuk awal bagi para penjelajah, pelaut, dan ilmuwan barat lainnya untuk mengetahui keberadaan sebuah pulau mandiri bernama Bali di sebelah timur Pulau Jawa. Sejak saat itu, nama Bali mulai masuk ke dalam peta navigasi dan literatur penjelajahan internasional.
3. Politik Kolonial dan Perluasan Pengaruh (Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20)
Seiring dengan berjalannya waktu dan ambisi kolonialisme Belanda di Nusantara, interaksi Bali dengan dunia luar semakin intensif, meski sering kali diwarnai konflik politik:
- Pemerintah kolonial Hindia Belanda secara bertahap memperluas kekuasaannya ke wilayah Bali, dimulai dari Bali Utara hingga akhirnya merambah ke Bali Selatan melalui peristiwa Perang Puputan pada awal abad ke-20 (seperti di Badung dan Klungkung).
- Penaklukan militer ini secara ironis justru menarik perhatian para antropolog, jurnalis, dan pemerintah kolonial untuk mendokumentasikan sistem sosial, adat istiadat, serta seni budaya Bali secara masif.
4. Transformasi Menjadi “The Last Paradise” (Dekade 1920-an)
Memasuki tahun 1920-an, wajah Bali di mata dunia berubah drastis dari wilayah konflik kolonial menjadi ikon keindahan budaya. Pemerintah Hindia Belanda mulai membuka jalur pelayaran reguler (seperti Bali Express) dan mendirikan biro pariwisata resmi (Official Tourist Bureau).
Selain itu, para seniman asing, fotografer seperti Dr. Gregor Krause, hingga penulis seperti Miguel Covarrubias menerbitkan buku, foto, dan lukisan tentang Bali ke kancah internasional. Publikasi ini melahirkan julukan-julukan romantis seperti The Island of Gods (Pulau Dewata) dan The Last Paradise, yang akhirnya sukses memikat gelombang wisatawan mancanegara pertama datang ke Bali.